Nyai Ontosoroh *
:: Desiyanti
“…Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.” (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 2002:105)
Runutan Kisah Sanikem
Bisakah seorang perempuan pribumi dari golongan kebanyakan, yang tak pernah mencicipi pendidikan formal, menjadi pengelola perusahaan perkebunan yang kompeten di zaman kolonial? Dalam buku pertama dari empat roman Tetralogi Buru—Bumi Manusia—Pramoedya Ananta Toer mengajak kita berkenalan dengan seorang perempuan yang luarbiasa. Nyai Ontosoroh, demikian ia dikenal orang. Namun, sebagaimana sebilah pedang tajam yang dulunya cuma segumpal besi tak bermakna, perempuan ini tak sekonyong-konyong terlahir dengan segala kekuatan, kecerdasan dan keteguhannya. Ia telah melewati proses ’menjadi’.
Sanikem namanya dulu, ketika itu hitungan tahun hidupnya baru menggenap empat belas. Ayahnya, jurutulis Sastrotomo, punya ambisi menjadi seorang juru bayar—seorang kassier—jabatan yang menurutnya identik dengan harta dan penghormatan. Untuk ambisi itu semata, Sastrotomo lantas menjual Sanikem pada seorang Belanda totok—Tuan Administratur, Tuan Besar Kuasa. Sanikem yang lugu mengalami transformasinya yang pertama: dari seorang anak perempuan yang berayah-beribu, jadi seorang Nyai—perempuan yang tidak dinikahi secara sah, tapi punya berbagai kewajiban serupa kewajiban istri.
Herman Mellema—lelaki Belanda itu—kemudian mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung. Pelan-pelan ia juga belajar bahasa Belanda dan Melayu, lalu menggunakan kedua bahasa itu untuk menulis dan bicara. Dengan kedua bahasa itu pula, ia mulai meluaskan wawasan dan menggali pengetahuan. Tak hanya itu, ia juga ditempa untuk tak kalah terampil dengan perempuan kulit putih mana pun dalam menata rumah, memasak, dan berperilaku sesuai dengan etiket kesopanan ala barat. Read more »
Comments(0)